Kisah ini terjadi di suatu kota kecil di daerah riau, kisah ini terjadi pada tahun 2001, kala itu aku sedang mencari peruntungan disana, seperti hari2 biasa, rutinitas ku menjaga sebuah toko kelontong, membuka, menjaga dan menutup nya. Saat itu setelah aku selesai membuka toko, tanpa sengaja aku melihat seorang gadis lewat d depan tempat ku bekerja, “hay” kata2 itu langsung keluar dari mulut ku, dia hanya berlalu tanpa mengindahkan godaan ku, cantik jg sih orangnya.
Sore harinya ku lihat lagi dia, ku goda lg dia “mau kemana de’”, lagi2 ia takmenghiraukannya, aku berfikir “ah dia cuma 1 dari skian ratus pengunjung d pasar ini”. Keesokan harinya dia lewat lagi di depan tempat ku bekerja, tapi kali ini dengan setengah berlari, aku jadi heran di buatnya, siapa dia gerangan?
3 hari berturut turut ku lihat dia, tapi yg anehnya, stiap lewat di depan tempatku dia pasti menundukan muka dan setengah berlari, ku cari tau siapa dia, ternyata dia spg baru di salah satu toko kosmetic tak jauh dari tempatu bekerja, sebenarnya tak ada perasaan apapun di hatiku kepadanya, yang membuat ku heran, kenapa setiap lewat du depan tempatku dia slalu berlari sambil menundukan mukanya.
Karna keunikannya itu setiap dia lewat pasti ku goda, semakin hari smakin aneh tabiatnya, kadang2 kalau mau berpapasan, dia selalu menghindar, dia cari jalan yang lain, walaupun agak jauh, yang penting tidak ketemu sama aku, saking penasarannya, ku cuba datangi tokonya, dengan berpura pura membeli salah satu barang, dia disana ber 3 orang, yg 2 lagi aku sudah kenal, boleh di bilang cukup akrab, aku bilang sama temennya, kalau aku hanya mau di layani sama dia, yang bikin aku tertawa geli, mukanya langsung memerah, tiba2 dia ngumpet d kolong meja, hampir 15 menit dia tak mau keluar dari sana, karena gak tega, aku pun pergi.
Nah dari kejadian malam itu, setiap melihatku dia seperti melihat setan, dia pasti langsung lari, ku tunggu ia selesai tutup toko, sebelum ku bilang “mau d antar pulang gak?” dia langsung mengambil langkah seribu. Karna sikap dan keunikannya hati ku pun mulai merasakan getaran2 itu, keesokan harinya, setiap dia mau tutup, ibunya selalu datang menjemput, malah terang2an ku goda ia di depan ibunya, perlahan lahan ku dekati dia.
Dengan 1001 cara, akhirnya hampir setelah 3 bulan aku bisa berbicara dengannya, tapi anehnya, setelah dia mulai dekat denganku, dia tak pernah lagi lewat di depan toko ku, pasti dia mencari jalan yang lain, padahal kalau mau ke tempat dia, jalan yang paling dekat cuma lewat tempatku, bener-bener bikin penasaran orang yang 1 ini. Kucoba dekati dia dengan berbagai cara, di bulan ke 4 kunyatakan perasaan ku padanya, ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan.
hari-hari pun berlalu, rutinitas ku pun bertambah, setelah tutup toko, aku harus mengantar dia pulang, tapi ada yang agak janggal selama aku jalan sama dia, sudah berbulan bulan aku jalan sama dia, dia tak mengizinkan ku memegang tangannya, waktu itu kalau tidak salah hubunganku dengan dia sudah memasuki bulan ke 9, seharian hujan turun, lami kami menunggu hujan reda, tapi hujan tak kunjung berhenti, payung pun tak ada, ku cari kantong kresek dan daun pisang, disana aku sedikit memelas untuk bisa memegang tangannya, dengan alasan biar tidak terlalu basah badannya, mungkin karna merasa iba dia akhirnya mengizinkan. Betapa senang hatiku saat itu, setelah 9 bulan berpacarabaru bisa memegang tangannya, baru kali ini aku di perdaya sama wanita, tapi disitulah letak keistimewaan dia.
Setelah ku mengenalnya, ternyata dia baru lulus dari sma, anaknya pintar, dari smp sampai sma dia selalu jadi juara kelas, ketika ku tanya “kenapa gak kuliah”, dengan nada yang agak melemah dia menjawab “gak mau menyusahkan orang tua”, mendengar hal itu hatiku terenyuh. Dia boleh di bilang anak “broken home”, ayah ibunya sering bertengkar, ayahnya seorang buruh di pelabuhan, maklum lah orang pelabuhan, rata2 dekat dengan minum-minuman keras dan perempuan, memang tidak semuanya, di rumah dia jarang berbicara sama ayahnya, dia bekerja semata mata demi ibu dan adiknya.
Memasuki tahun ke 2, kusuruh dia berhenti bekerja dari tempat yang lama, masalahnya gajinya tak seberapa, ku antar dia melamar kerja di suatu PT terbesar yang ada di sana, alhamdulillh dia di terima di sana, hubungan ku dengan keluarganya sangat baik, apa lagi dengan ibunya, sudah seperti orang tua angkat bagiku, perlahan-lahan ku coba menyatukan keluarga mereka, memang butuh proses yang panjang, tapi alhamdulillah ada perubahannya.
Di tahun ke 3, aku sudah punya usaha sendiri, ngontrak rumah sendiri, aku merasa hidupku sudah cukup mapan. Waktu itu tahun 2003, kucoba untuk lebih serius dengannya, kendala selalu ada, aku tidak mungkin melangkahi kakak perempuanku sendiri, akhirnya rencana ku gagal, pada suatu saat usahaku mulai merosot drastis, sampai2 aku merasakan jadi pengangguran di sana, 4 bulan aku luntang-lantung tak menentu, anehnya dia tak berubah sedikitpun padaku, pernah aku katakan sama dia untuk mencari pacar yang lain yang bisa menafkahinya kelak, tapi apa yang terjadi, pertengkaran yang datang.
hari-hari ku ku habiskan dengan kerja serabutan di pasar, karna tak enak sama keluarganya yang begitu baik, aku putuskan untuk hijrah ke kota jakarta, tapi keluarganya menentang habis habisan, setelah ku jelaskan semua ini demi masa depan aku dan dia, akhirnya keluarganya pun menyutujuinya, sebelum berangkat aku pamit sama seluruh keluarganya, aku pamit sama ibunya dan berjanji suatu saat nanti akan datang untuk menyuntingnya, akhirnya kepergianku di lepas dengan isak tangis, berat rasanya, tapi ini harus ku lakukan demi masa depan hubunganku dengannya.
Setelah sesampainya di Jakarta, semua masih berjalan dengan lancar, hampir setiap hari kami berhubungan via telepon seluler, memasuki tahun ke 5 semuanya berubah drastis, handphone nya sudah tak bisa lagi ku hubungi, aku masih berfikiran positif, mungkin saja hp nya hilang, tapi gak mungkin dia lupa no hp ku, kan bisa saja dia meminjam telepon temannya atau ke wartel, hampir 3 bulan aku putus hubungan, saat itu tiba-tiba ada yang telepon, ternyata tantenya, dia bilang klu keponakannya mau nikah, aku serasa di sambar petir di siang hari bolong, aku kaget tak percaya, aku berharap itu hanya sebuah mimpi.
Begitu bencinya aku sama dia, kalau memang benar, kenapa dia tidak menghubungiku langsung, kenapa aku harus tau dari orang lain, dari situ aku mulai benci sama yang namanya wanita. Setelah sekian lama temanku menelpon, kalau dia sedang hamil, dia cerita kalau dia nikah karna terpaksa, ayahnya punya hutang sama orang, ayahnya tak sanggup membayar, akhirnya dia di jodohkan sama anak orang itu, dia sempat menolak dan ingin menyusulku ke Jakarta, tapi niatnya urung karena dia tidak tega meninggalkan ibunya, hatiku jadi terenyuh mendengarnya.
Begitu mulia hatinya, begitu berat cobaan yang dia terima, sampai saat ini aku tak pernah mendengar kabar beritanya, aku rindu ingin mendengar suaranya.
semoga tuhan melindunginya dari segala mara bahaya,
semoga keluarganya selalu dalam lindunganNya.
Sampai saat ini pun aku masih belum bisa melupannya, sudah beberapa orang yang datang masuk ke hati ku, tapi tak ada yang seperti dia, dia kuat, tegar, dan selalu ingat sama tuhan.
semoga kau bahagia dengan pendampingmu
aku disini cuma bisa berdoa untukmu
semoga dapat ku temui lagi gadis sepertimu
gadis pemalu…….
0.516350
0.604248